17.12.17

Pegunungan Karst Rammang-Rammang

60 menit dari pusat Kota Makassar terdapat satu gugusan pegunungan karst yang menyabet gelar kawasan karst terbesar ketiga didunia, letaknya di Maros Sulawesi Selatan. Seperti sedang berada di habitat zaman purba yang kaya akan bebatuan besar dan eksotik, Rammang-Rammang juga menyuguhkan indahnya Teluk Bidadari di dalamnya.

Saya pribadi sangat senang menjelajah tempat baru karena seumur hidup baru kali ini melihat pegunungan karst secara langsung. Pernah baca di salah satu portal berita online bahwa kawasan Rammang-Rammang ini didaftarkan sebagai salah satu objek sejarah dunia, Indonesia bakal lebih kaya lagi setelahnya!

Belum berkesempatan untuk mengulik lebih dalam tentang kawasan ini, jadi baru bisa mengunjungi "bagian luarnya" aja. Mungkin lain kali akan kesini lagi untuk berburu matahari terbit di teluk bidadarinya.

Dikarenakan suasana yang terik luar biasa, ada salah satu tempat alternatif buat berteduh sekaligus jajan-jajan lucu, namanya Kafe Puncak. Disana kita bisa ngeliatin pegunungan karst dari atas ditemani semilir angin sepoi-sepoi. Sampe ketiduran disana juga gapapa.






Cafe Puncak Rammang-Rammang

Berfoto ala-ala dulu!


Mungkin ada yang berpikiran untuk mengunjungi Stonehenge nya Indonesia ini?

hehe

Wawa Yasaruna's

28.10.17

Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Makassar


Postingan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman asyik di Makassar. Saya bener-bener excited menulis karena banyak banget hal baru yang saya temui di Ibu Kota Sulawesi Selatan ini.
Sesampainya di Bandara Sultan Hassanudin saya disambut hangat oleh Ardy dan Icul anak D'graph Makassar, selanjutnya dibawa ke sekretariatan mereka dan berkenalan dengan anak-anak D'graph serta UKM Foto UnHas yang mana mereka juga tergabung dengan Rumah Foto Makassar. Sore menuju malam kami berkeliling Makassar yang pada saat itu langitnya sedang bagus-bagusnya, setelah itu ngopi-ngopi lucu di Pasar Segar yang katanya tempat kekinian pemuda pemudi Makassar dan di ajak makan Mie Titi. Bukan hanya Mie Titi , tapi saya diajak nyobain berbagai  makanan di Makassar klik aja di sini.

Saya bener-bener gak nyangka antusiasme temen-temen Makassar dalam menyambut tamu, pada saat itu saya ditampung oleh Iin, Kak Jum, dan Annisa. Tiga hari saya di Makassar dan gak ada yang gak menyenangkan meskipun Makassar bagi saya terik banget hehe.

Biasanya kalau ke Makassar ga afdol kalau melewatkan Pantai Losari, sayangnya saya gak kesana sama sekali tapi diajak ke tempat yang lebih menarik, yay! Besoknya saya di ajak keliling Benteng Rotterdam yang letaknya gak jauh dari Pantai Losari. Benteng peninggalan Kesultanan Gowa ini menurut sejarah adalah termasuk benteng yang megah, tapi emang iya sih ke eropa-eropa an gimana gitu.

Di sebelah pojok kiri (apabila dari pintu masuk) ada penjara Pangeran Diponegoro yang ketika mau saya tengok ternyata ditegur oleh seorang yang berseragam TNI "jangan masuk mbak, nanti anda mengubah sejarah". Sedikit bingung dengan perkataan beliau, saya langsung putar arah tanpa pikir pusing. Di benteng ini terdapat Musium La Galigo yang menyimpan 5000 koleksi, diantaranya koleksi-koleksi prasejarah, keramik, etnografi serta berbagai benda yang digunakan oleh Suku Bugis, Mandar, Toraja dan Makassar.

Berkeliling cukup lama dan duduk-duduk diatap benteng untuk sekedar menikmati angin dan ngobrol sana-sini. Benteng ini cukup luas dan bangunannya cukup menarik, istilahnya londo banget. Sekarang bangunan yang dibangung tahun 1545 ini selain sebagai tempat wisata sejarah juga sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.


Musium La Galilo dengan ilustrasi Kapal Pinisi


Wefie dengan teman-teman Rumah Foto Makassar 

Seselesainya berkeliling benteng sorenya kita beranjak ke Pelabuhan Pao Tere. Sebelumnya saya heran aja kenapa diajak ke pelabuhan tapi ternyata pelabuhan ini emang kaya akan sejarah. Pelabuhan yang berjarak 5 KM dari pusat kota Makassar ini merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, masih nyambung sama benteng yang saya ulah diatas. Menurut sejarah pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan tertua di Indonesia. 

Begitu sampai di mulut pelabuhan terlihat jajaran Kapal Pinisi serta aktifitas pelabuhan di sore hari seperti memindah barang dari kapal ke daratan, nelayan yang bergegas pulang, bahkan anak-anak kecil berlarian dan bermain bola.

Kapal Pinisi sendiri kini menjadi ikon Kota Makassar bahkan bahari Indonesia. Kapal yang awalnya dibuat di Bulukumba ini merupakan kebanggaan orang Bugis dan Makassar karena memang original milik mereka. Siapa sangka bahwa dulunya kapal ini pernah menjalani ekspedisi keliling sampai Afrika padahal dalam pembuatannya tidak mengenakan perekat sama sekali. See? Indonesia emang kaya banget.

Aktivitas sore di Pao Tere

Jajaran Kapal Pinisi

Aktifitas pagi hari Pelabuhan Pao Tere sangat ramai akan transaksi jual beli, para nelayang langsung menjajakan hasil tangkapan lautnya speerti ikan dan seafood. Katanya disini pusat jual beli hasil laut dan harganya murah sehingga ga pernah sepi setiap paginya.
Bukan hanya diajak berkeliling sekitar kota, saya diajak temen-teman ke Maros buat mengunjungi kawasan Karst. Akan di ceritakan di postingan selanjutnya 😁


hehe

Wawa Yasaruna's