28.10.17

Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Makassar


Postingan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman asyik di Makassar. Saya bener-bener excited menulis karena banyak banget hal baru yang saya temui di Ibu Kota Sulawesi Selatan ini.
Sesampainya di Bandara Sultan Hassanudin saya disambut hangat oleh Ardy dan Icul anak D'graph Makassar, selanjutnya dibawa ke sekretariatan mereka dan berkenalan dengan anak-anak D'graph serta UKM Foto UnHas yang mana mereka juga tergabung dengan Rumah Foto Makassar. Sore menuju malam kami berkeliling Makassar yang pada saat itu langitnya sedang bagus-bagusnya, setelah itu ngopi-ngopi lucu di Pasar Segar yang katanya tempat kekinian pemuda pemudi Makassar dan di ajak makan Mie Titi. Bukan hanya Mie Titi , tapi saya diajak nyobain berbagai  makanan di Makassar klik aja di sini.

Saya bener-bener gak nyangka antusiasme temen-temen Makassar dalam menyambut tamu, pada saat itu saya ditampung oleh Iin, Kak Jum, dan Annisa. Tiga hari saya di Makassar dan gak ada yang gak menyenangkan meskipun Makassar bagi saya terik banget hehe.

Biasanya kalau ke Makassar ga afdol kalau melewatkan Pantai Losari, sayangnya saya gak kesana sama sekali tapi diajak ke tempat yang lebih menarik, yay! Besoknya saya di ajak keliling Benteng Rotterdam yang letaknya gak jauh dari Pantai Losari. Benteng peninggalan Kesultanan Gowa ini menurut sejarah adalah termasuk benteng yang megah, tapi emang iya sih ke eropa-eropa an gimana gitu.

Di sebelah pojok kiri (apabila dari pintu masuk) ada penjara Pangeran Diponegoro yang ketika mau saya tengok ternyata ditegur oleh seorang yang berseragam TNI "jangan masuk mbak, nanti anda mengubah sejarah". Sedikit bingung dengan perkataan beliau, saya langsung putar arah tanpa pikir pusing. Di benteng ini terdapat Musium La Galigo yang menyimpan 5000 koleksi, diantaranya koleksi-koleksi prasejarah, keramik, etnografi serta berbagai benda yang digunakan oleh Suku Bugis, Mandar, Toraja dan Makassar.

Berkeliling cukup lama dan duduk-duduk diatap benteng untuk sekedar menikmati angin dan ngobrol sana-sini. Benteng ini cukup luas dan bangunannya cukup menarik, istilahnya londo banget. Sekarang bangunan yang dibangung tahun 1545 ini selain sebagai tempat wisata sejarah juga sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.


Musium La Galilo dengan ilustrasi Kapal Pinisi


Wefie dengan teman-teman Rumah Foto Makassar 

Seselesainya berkeliling benteng sorenya kita beranjak ke Pelabuhan Pao Tere. Sebelumnya saya heran aja kenapa diajak ke pelabuhan tapi ternyata pelabuhan ini emang kaya akan sejarah. Pelabuhan yang berjarak 5 KM dari pusat kota Makassar ini merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, masih nyambung sama benteng yang saya ulah diatas. Menurut sejarah pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan tertua di Indonesia. 

Begitu sampai di mulut pelabuhan terlihat jajaran Kapal Pinisi serta aktifitas pelabuhan di sore hari seperti memindah barang dari kapal ke daratan, nelayan yang bergegas pulang, bahkan anak-anak kecil berlarian dan bermain bola.

Kapal Pinisi sendiri kini menjadi ikon Kota Makassar bahkan bahari Indonesia. Kapal yang awalnya dibuat di Bulukumba ini merupakan kebanggaan orang Bugis dan Makassar karena memang original milik mereka. Siapa sangka bahwa dulunya kapal ini pernah menjalani ekspedisi keliling sampai Afrika padahal dalam pembuatannya tidak mengenakan perekat sama sekali. See? Indonesia emang kaya banget.

Aktivitas sore di Pao Tere

Jajaran Kapal Pinisi

Aktifitas pagi hari Pelabuhan Pao Tere sangat ramai akan transaksi jual beli, para nelayang langsung menjajakan hasil tangkapan lautnya speerti ikan dan seafood. Katanya disini pusat jual beli hasil laut dan harganya murah sehingga ga pernah sepi setiap paginya.
Bukan hanya diajak berkeliling sekitar kota, saya diajak temen-teman ke Maros buat mengunjungi kawasan Karst. Akan di ceritakan di postingan selanjutnya 😁


hehe

Wawa Yasaruna's

15.10.17

Makan Enak di Makassar!

Beruntungnya sebelum saya terbang ke Ternate untuk mengikuti serangkaian acara Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia (JFMI) ke X bisa singgah di Makassar selama dua hari. Saya gak bakal menyia-nyiakan kesempatan ini karena Makassar adalah salah satu kota impian dari SMA, dan lucky me benar-benar bisa menginjakkan kaki disana!

Selain berkunjung ke beberapa tempat saya juga tidak akan melewatkan untuk mencicipi hidangan khas Kota Angin Mamiri ini. Yang terkenal dari Makassar adalah menu-menu makanan berat yang lengkap kandungan klestrolnya a.k.a tidak jauh-jauh dari daging bahkan jeroan sapi! Wew. Untuk saya yang tidak begitu doyan makanan berkolestrol tinggi mungkin kurang tertarik, tapi saya harus coba doonngg.

Tapi ternyata makanan disana tidak melulu soal daging, diantaranya yang udah pernah saya cobain adalah :

Mie Titi

First impression saya ketika di ajak makan mie kering adalah semacam tamie kalau di Jawa, mie digoreng lalu disiram dengan topping capjay. Eee ternyata beda, yang ini lebih yahud! Mie nya juga berbeda dengan mie tamie. Kuahnya bertekstur kental nan bening ada tambahan daging, seafood, serta bakso aci (bakso kanji). Kita bisa pilih sajian mi kuah atau mie kering, porsi sedang ataupun porsi besar, yang jelas sama-sama enak! Waktu itu saya di Kedai Mie Awa daerah pecinan, harganya berkisar Rp 20.000. Terdapat camilan yang bisa melengkapi kenikmatan makan Mie Awa yaitu bakso goreng.

Mie Kuah

Mie Kering
Dari keseluruhan saya kurang cocok dengan sambelnya, kurang pas di lidah saya yang orang Jawa. Gak suka yang terlewat asam hehe.

Dangke

Kalau yang satu ini mungkin susah ditemukan di daerah Kota Makassar karena dangke sendiri adalah kudapan khas Enrekang yang kurang lebih 266 kilometer atau bisa ditempuh perjalanan sekitar tujuh jam an! Namun beruntungnya saya yang pada saat itu yang menumpang di rumah salah satu teman baru yang asli Enrekang, Iin namanya.

Dangke sendiri adalah hasil fermentasi susu kerbau atau susu sapi, bentuknya seperti tahu, cara memasaknya dengan di panggang. Sekilas rasanya seperti keju hehe.

Selain dangke waktu itu saya juga disuguhi Ikan Cakalang sebagai lauk tambahan, yum!



Pisang Epe

Cemilan yang menjamur disekitar Pantai Losari ini memang sudah lama ada dan selalu ramai dikunjungi. Pisang setengah matang yang dijepit dengan dua papan lalu dibakar dan diberi aneka topping manis seperti durian, cokelat, susu, ataupun keju.

Harganya cukup murah berkisar 10.000-15.000 rupiah



Aneka Es di Maros

Jajan es-es an di Makassar itu seperti oase di gurun pasir, melegakan! Banyak es yang bisa kita coba seperti es teler, es buah, es campur, namun yang palin khas tetep es pisang ijo hehehe.


Coto Makassar

Yang paling terkenal dan wajib dicoba ya coto nya, meskipun banyak hidangan lain yang serupa seperti konro, pallu basa, dan sop saudara namun coto tetep juara.

Meskipun saya gabegitu suka daging tapi ternyata emang enaaak banget, murah lagi. Kalau di Malang harga berkisar 35.000-40.000 rupiah, di Makassar rata-rata cuma 15.000 rupiah free ketupat dan air putih pula. Rasanya seger apalagi kalo kita tambahin jeruk nipis dan cabe yang banyak, nyam!


Itu dia yang bisa saya share sepengalaman di Makassar, semoga bermanfaat ya fellas!

hehe

Wawa Yasaruna's